Langsung ke konten utama

9 Analisis Dalam Pendekatan Keruangan


Suatu fenomena geosfer yang terjadi di permukaan bumi pada saat dikaji menggunakan pendekatan keruangan maka dapat menggunakan sembilan matra atau tema analisis keruangan yang meliputi pola, struktur, proses, interaksi, keterkaitan, organisasi, trend, perbandingan dan sinergisme keruangan. 

Pendekatan keruangan menurut profesor Hadi Sabari Yunus (2008) merupakan pendekatan yang menekankan analisisnya pada eksistensi ruang (space) sebagai wadah untuk mengakomodasi kegiatan manusia dalam menjelaskan fenomena geosfer.

1. Analisis Pola Keruangan (Spatial Pattern Analysis)

Analisis pola keruangan menekankan pada sebaran atau distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Analisis pola keruangan berpedoman pada prinsip persebaran bahwa fenomena geosfer yang terjadi di suatu wilayah tersebar secara tidak merata. Tidak meratanya persebaran itu disebabkan oleh elemen-elemen pembentuk ruang yang juga tersebar tidak merata.

 

2. Analisis Struktur Keruangan (Spatial Structure Analysis)

Analisis struktur keruangan menekankan pada susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Elemen pembentuk ruang dapat berupa fenomena fisik (alam) maupun fenomena non fisik (manusia). Analisis suatu wilayah dengan memperhatik susunan keruangan ini misalnya adalah kajian tentang keruangan desa.

 

3. Analisis Proses Keruangan (Spatial Process Analysis)

Analisis proses keruangan menekankan pada perubahan-perubahan elemen pembentuk ruang. Penekanan analisis pada perubahan elemen ini berarti pada kajiannya menggunakan konsep waktu. Perubahan akan diamati dari waktu ke waktu berdasarkan data pendukung yang tersedia. Contoh analisis proses keruangan ini cukup banyak, salah satunya adalah perubahan penggunaan lahan di suatu wilayah yang akan mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

 

4. Analisis Interaksi Keruangan (Spatial Interaction Analysis)

Analisis interaksi keruangan menekankan pada interaksi yang terjadi dalam ruang. Bentuk interaksi secara keruangan misalnya adalah interaksi antara desa dengan kota yang menimbulkan saling ketergantungan. Ketergantungan antara kedua wilayah tersebut dapat diamati dari kondisi regional complementery atau wilayah saling melengkapi kebutuhan.

 

5. Analisis Keterkaitan Keruangan (Spatial Association Analysis)

Analisis keterkaitan keruangan menekankan pada hubungan suatu fenomena geosfer satu dengan lainnya dalam ruang. Misalnya bagaimana hubungan antara tingkat kepadatan atau jumlah penduduk yang tinggi di suatu kota dengan tingginya kriminalitas yang terjadi di kota tersebut.

 

6. Analisis Organisasi Keruangan (Spatial Organisation Analysis)

Analisis organisasi keruangan menekankan pada tatanan yang terjadi dalam suatu ruang. Tata ruang di suatu wilayah dilakukan oleh pemerintah setempat dengan tujuan-tujuan tertentu dan menyesuaikan dengan kondisi alam dan kebutuhan penduduk.

 

7. Analisis Trend Keruangan (Spatial Trends/Tendency Analysis)

Analisis trend keruangan menekankan pada kecenderungan terjadinya perubahan suatu fenomena geosfer dalam ruang. Bedasarkan hasil analisis pola keruangan, analisis struktur keruangan, analisis proses keruangan dan analisis keterkaitan keruangan maka suatu wilayah dapat dikembangkan sesuai ke arah yang sesuai dengan trend atau kecenderungan fenomena alam atau sosial yang sering terjadi di wilayah tersebut.

 

8. Analisis Perbandingan Keruangan (Spatial Comparison Analysis)

Analisis perbandingan keruangan menekankan pada perbandingan fenomena geosfer di suatu ruang dengan ruang yang lain. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kelemahan dan keunggulan suatu wilayah dibandingkan wilayah lainnya.

 

9. Analisis Sinergisme Keruangan (Spatial Synergism Analysis)

Analisis sinergisme keruangan merupakan analisis keruangan yang berkaitan dengan perkembangan antara ruang satu dengan ruang yang lain yang memungkinkan terjadinya sinergi antar ruang untuk berkembang dan bekerjasama. Analisis sinergisme terkait dengan globalisasi yang berpengaruh pada semakin kaburnya batas-batas wilayah karena perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi. Batas wilayah antara Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi semakin tidak jelas karena perkembangan wilayah, pesatnya teknologi transportasi dan komunikasi. Kegiatan transportasi, ekonomi dan industri yang terjadi antara kota-kota di atas menyebabkan seolah-olah kelima kota tersebut merupakan satu wilayah yang sama dari segi administratif, padahal tidak demikian.

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan MGMP Februari 2026 : "Pembelajaran Geografi yang Inovatif"

Yogyakarta, 9 Februari 2026 – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi Madrasah Aliyah (MA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar pertemuan rutin bulanan pada Senin, 9 Februari 2026. Bertempat di MAN 3 Kulonprogo, pertemuan kali ini mengusung tema "Berbagi Praktik Baik: Model Pembelajaran" yang bertujuan untuk memperkaya wawasan dan keterampilan para guru geografi dalam menyajikan materi ajar yang lebih menarik dan efektif. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan guru geografi dari berbagai MA se-DIY ini menghadirkan dua narasumber praktisi, yakni Ibu Dhany Melyana, S.Pd. dan Bapak Achmad Baidowi, S.Pd., keduanya merupakan guru Geografi dari MAN 1 Yogyakarta. Dalam sesi berbagi pengalaman, Ibu Dhany Melyana memaparkan penerapan model pembelajaran Project Exhibition pada materi Mitigasi Bencana di kelas XI. Ia menjelaskan bagaimana model ini tidak hanya menekankan pada pemahaman teoritis siswa tentang kebencanaan, tetapi juga melatih mereka untuk menghasilkan karya nyata...

2 Contoh Wilayah Formal

Wilayah formal (uniform region) adalah area geografis yang memiliki keseragaman atau homogenitas berdasarkan kriteria fisik (alami) maupun sosial budaya, serta cenderung bersifat statis (tetap). Karakteristik Wilayah Formal : Homogenitas: Adanya keseragaman dalam wilayah tersebut. Statis: Bentuk kenampakan relatif tetap dan tidak mudah berubah. Batas Jelas: Umumnya dibatasi oleh batasan administratif atau fisik yang baku.  1. Wilayah Formal Berdasarkan Kriteria Fisik (Alami) Didasarkan pada kesamaan topografi, jenis batuan, iklim, dan vegetasi:  Wilayah Pegunungan Kapur (Karst) : Wilayah dengan karakteristik tanah kapur. Wilayah Beriklim Dingin: Wilayah yang memiliki kesamaan iklim. Wilayah Vegetasi Mangrove: Wilayah pesisir dengan vegetasi seragam. Wilayah Dataran Tinggi/Rendah: Berdasarkan bentuk muka bumi.  2. Wilayah Formal Berdasarkan Kriteria Sosial Budaya Didasarkan pada aktivitas, adat, atau administrasi manusia:  Wilayah Suku Banjar: Wilayah persebara...